Masua Business Student (MBS)
Wirausaha adalah orang yang mengorganisir, mengelola dan berani menanggung resiko untuk menciptakan usaha baru dan peluang berusaha. Adapun kewirausahaan merupakan sikap mental dan sifat jiwa yang selalu aktif dalam berusaha untuk memajukan karya baktinya dalam rangka upaya meningkatkan pendapatan di dalam kegiatan usahanya.
Inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan seuatu yang baru dan berbeda (create new and different) melaui berpikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup.
Pada hakekatnya kewirausahaan adalah sifat, ciri, dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif. Sebagai suatu disiplin ilmu, maka ilmu kewirausahaan dapat dipelajari dan diajarkan, sehingga setiap individu memiliki peluang untuk tampil sebagai seorang wirausahawan(entrepreneur).
Bahkan untuk menjadi wirausahawan sukses, memiliki bakat saja tidak cukup, tetapi juga harus memiliki pengetahuan segala aspek usaha yang akan ditekuninya. Tugas dari wirausaha sangat banyak, antara lain tugas mengambil keputusan, kepemimpinan teknis, kepemimpinan.
Entrepreneur atau wirausaha di Indonesia, jumlahnya masih sedikit. Dibandingkan negara lain, malah tertinggal jauh. Saat ini, jumlah entrepreneur di tanah air mencapai 0,18% dari jumlah penduduk.
Bandingkan dengan India mendekati 12%, Amerika Serikat 11,5%, China 10%, Singapura 7,2%, Malaysia 3% dan masih bnyak lagi yang lainnya.Global Entrepreneur Monitor menyebutkan idealnya entrepreneur di sebuah negara mencapai 2% dari total penduduknya.
Sehingga ekonomi negara itu bisa lebih baik. Saat ini, penduduk Indonesia sekitar 240 juta orang, ini berarti seharusnya ada sekitar 4,5 juta wirausaha.
Solusi untuk mengatasi pengangguran Pemuda di Indonesia sangat banyak. Hal ini harus dilakukan secara komprehensif dan total. Program-program mengatasi pengangguran tersebut mengedepankan:
Penguatan kecakapan hidup dan kewirausahaan yang komprehensif meliputi personal, sosial dan vocational skills, Keterpaduan antar lembaga yang bersifat horizontal maupun antar lembaga yang bersifat vertikal, dan Penjaminan terjadinya four in one process (rekrutmen, pendidikan dan pelatihan, pemagangan, penyaluran /pemandirian lulusan) lembaga pendidikan baik formal maupun non formal harus mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas dengan semangat kewirausahaan.
Kewirausahaan akan mampu menjadi solusi atas Pengangguaran pemuda di Indonesia dengan menghasilkan lulusan yang berbasis kewirausahaan. Semoga kontribusi Positif lembaga pendidikan akan semakin memajukan bangsa Indonesia.
Pemerintah sangat memprioritaskan program kewirausahaan sebagai upaya untuk penyerapan pekerjaan baru. Hal ini merupakan bagian yang utuh untuk memajukan dan memandirikan bangsa Indonesia.
Pandangan pada siswa Aliyah yang tergolong masih belum tahu banyak tentang bisnis akan mendapat pelajaran di kelas bisnis yang akan di berikan oleh wali kelasnya atau organisasi OSIS yang ada disekolah dibimbing langsung oleh dewan guru, dengan cara menyisakan waktu untuk mengadakan MASUA BUSINESS STUDENT (MBS) merupakkan program atau gagasan dari kami untuk meningkatkan wirausaha di Indonesia khususnya di cianjur umumnya di jawa barat, kita akan menjadikan gagasan ini menjadi percontohan untuk daerah-daerah lain untuk mengembangkan kewirausahaan dengan modal ikhlas untuk menguranggi angka pengangguran yang banyak terjadi di daerah-daerah di Indonesia saat ini.
Meningkatkan Generasi wirausaha yang kreatif dan berani tampil dengan brand inovatif akan dimiliki Indonesia, jika wirausaha ditanamkan pada anak usia 7 tahun dari mulai SD sampai SMA/MA
Entrepreneurship perlu masuk dalam kurikulum yang ada di sekolah. Program masua business student di Madrasah Aliyah ini mengajarkan anak untuk kreatif.
Anak berpikir mengenai apa yang mau dijual. Hal kecil seperti ini melatih siswa untuk berpikir kreatif dan berinovasi, nantinya dalam program yang kami buat ini menuju kearah memasukkan pelajaran kewirausahaan di lingkup sekolah.
Manfaat yang ingin dicapai :
- Menambah daya tampung tenaga kerja, sehingga dapat mengurangi pengangguran
- Sebagai generator pembangunan lingkungan di bidang produksi, distribusi, pemeliharaan lingkungan, kesejahteraan khususnya pada lingkup sosial
- Berusaha memberi bantuan kepada orang lain dan pembangunan sosial sesuai dengan kemampuannya
- Berusaha mendidik karyawannya menjadi orang mandiri, disiplin, jujur, tekun dalam menghadapi pekerjaan
- Memberi contoh kepada orang lain, bagaimana kita harus bekerja keras
- Hidup secara efisien, tidak berfoya-foya dan tidak boros
Langkah-langkah gagasan Masua Business Student (MBS) sebagai berikut :
a) Adanya kesediaan guru untuk menyisakan waktu 15 menit per pertemuan untuk berdiskusi sesuai dengan kelompoknya masing-masing guna mendapatkan ide-ide ataupun informasi-informasi yang menjadikan kewirausahaan maupun wirausahawan.
b) Guru mencarikan bahan diskusi dan pencapaian akan diskusi kedepan agar programnya jelas.
c) Yang unik disini adalah suatu kelompok sesuai minat siswa-siswi untuk mencapai kenyamanan dan guru juga tidak selalu memberi pelajaran didalam kelas kalau tidak sempat mengingat keterbatasan waktu dan jumlah materi yang diajarkan di dalam kelas. tetapi guru juga dapat memberi pekerjaan rumah dengan tugas mencari harga-harga terkini soal produk-produk sesuai spesifikasi masing masing dan tidak memperbolehkan mencari di internet, harus mencari dari toko-toko di daerah masing-masing. “ meraih kesuksesan bukan mudah tapi perlu perjuangan untuk mendapatkannya”
d) Siswa yang sudah berhasil akan usahanya setelah lulus nanti diwajibkan untuk menjadi mentoring.
e) Siswa juga akandiperkenalkan dengan program-program yang sudah berhasil dan menyuruh mengubahnya menjadi yang diinginkan.
(missal mentoring atau guru memberi contoh membuat burung dari kertas karton siswa tidak disuruh meniru tetapi merubahnya menjadi apapun yang di inginkan oleh subjek)
f) Lalu hasil yang sudah mereka buat diujicobakan untuk dijual guna memberi pelajaran khusus kepada siswa bahwa wirausaha bukan hanya membuat hal-hal yang baru tetapi menjual juga salah satu bentuk wirausaha (berdagang).
g) Penerapan mentoring juga akan dibantu oleh LSM disini kita pembuat gagasan akan memfasilitasi dengan mendatangkan mentoring sesuai bidang yang di diskusikan.
h) Mereka juga akan diberi tambahan untuk menjadi penjual prodak yang sudah ditentukan sekolah, bukan melatih anak untuk menjual di pinggir-pinggir jalan tetapi lebih melatih anak menghadapi konsumen dimasa depan.
Suatu bangsa akan maju bila memiliki jumlah entrepreneur (wirausahawan) minimal 2 persen dari total jumlah penduduk". Pernyataan itu diungkapkan Ir Ciputra pada malam penganugerahan penghargaan Ernst and Young Entrepreneur of the Year 2007 di Hotel Mulia, Jakarta, (28/11/07). Kala itu, Ciputra mencontohkan Singapura memiliki wirausahawan sekitar 7,2 persen, dan Amerika Serikat memiliki 2,14 persen entrepreneur. Bagaimana dengan Indonesia?
Dari 220 juta lebih penduduk, Indonesia hanya memiliki sekitar 400.000 pelaku usaha mandiri, atau sekitar 0,18 persen wirausahawan dari jumlah penduduknya. Hal ini tentu memrihatinkan. Padahal, menurut pendiri University of Ciputra Entrepeneurship Center (UCEC) ini, potensi Indonesia terbilang besar. Indonesia memiliki kekayaan alam melimpah siap diolah. Indonesia termasuk dalam ranking 10 besar penghasil tembaga, emas, natural gas, nikel, karet, dan batubara. Dan, masih banyak lagi keunggulan komparatif yang kita miliki. Karena itu, jika menyedikan stok enterpreneur yang cukup dan potensial, Indonesia bisa menjadi pemain internasional yang handal.
Peraih penghargaan Kewirausahaan Sosial (Social Entrepreneurship) Ernst and Young Entrepreneur tahun 2006 Bambang Ismawan mengatakan, wirausahawan muda di Indonesia mulai bangkit. Hal itu dapat dilihat dari minat dan pelaku wirausaha muda yang semakin bertumbuh. Namun dibandingkan jumlah penduduk, jumlah entrepreneur muda yang kita miliki memang masih sangat kurang.
"Lulusan perguruan tinggi lebih banyak yang ingin bekerja sebagai pegawai, sedangkan inisiatif untuk menciptakan lapangan kerja sendiri masih sangat kecil," ujarnya.
Rendahnya minat dan pertumbuhan wirausahawan muda, kata Bambang, terutama disebabkan oleh minimnya dorongan lingkungan keluarga sang anak. Orang tua lebih banyak mengharapkan anaknya bekerja sebagai pegawai negeri atau pegawai kantor. Pasalnya, pekerjaan seperti itu dinilai memiliki risiko kecil dibandingkan menjadi pengusaha. "Orang tua menginginkan anak mereka mendapatkan gaji tetap setiap bulan, daripada harus menunggu keuntungan yang memakan waktu lama," ujar Bambang.
Harapan orang tua ini didukung pula oleh lesunya sektor kewirausahaan dalam negeri. Sektor ini dinilai memiliki risiko tinggi, sementara itu kurang menjanjikan penghidupan yang layak. Karena itu, orang tua petani rela mengeluarkan biaya tinggi untuk menyekolahkan anaknya agar mereka tidak kembali kepada pertanian. Bambang mencontohkan, tamatan Institut Pertanian Bogor (IPB) lebih banyak menjadi wartawan atau pegawai, daripada menjadi petani.
Selain pengaruh lingkungan dalam keluarga, kata Bambang, rendahnya minat kaum muda terjun dalam bidang wirausaha, juga disebabkan oleh arah dan sistem pendidikan yang kurang mendukung. Pendidikan malah tampil sebagai alat untuk menumpulkan semangat berwirausaha. Metode menghafal, misalnya, membuat anak tidak memiliki daya kreasi dan inovasi, yang sangat dibutuhkan dalam dunia kewirausahaan. Karena itulah, Bambang mendesak agar pendidikan, terutama pendidikan tinggi segera dibenahi.
Desakan agar perguruan tinggi melakukan pembenahan - bahkan perubahan paradigma - juga disuarakan Ciputra. Menurutnya, salah satu penyebab rendahnya jumlah entrepreneur di Indonesia adalah sistem pendidikan yang hanya fokus pada penciptaan tenaga kerja, bukan menciptakan enterpreneur-enterpreneur potensial.
"Setiap tahun, lembaga-lembaga pendidikan menghasilkan pengangguran, karena mereka tidak didorong untuk menjadi pelaku wirausaha," ujarnya.
Menurut Ciputra, setiap tahun perguruan tinggi Indonesia melahirkan sekitar 750 lebih sarjana yang menganggur. Karena itu, tantangan perguruan tinggi di Indonesia ke depan, katanya, adalah melahirkan wirausahawan muda.
Menjawab tantangan itulah Ciputra mendirikan sekolah yang fokus pada upaya mengembangkan semangat kewirausahawan siswa, seperti Sekolah Ciputra, Sekolah Citra Kasih, Sekolah Citra Berkat, Sekolah Global Jaya, Sekolah Pembangunan Jaya. Terakhir, ia mendirikan University of Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC). Program yang disiapkan UCEC antara lain mempersiapkan modul pengayaan kewirausahaan untuk kurikulum nasional, mengembangkan kurikulum kewirausahaan di Universitas Ciputra, dan mengadakan pelatihan tiga bulan kepada masyarakat.
Selain dukungan keluarga dan perguruan tinggi, pertumbuhan wirausahawan muda juga membutuhkan peran dunia usaha dan lembaga dunia usaha. Bambang memberi contoh peran pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi). Organisasi ini seharusnya tidak hanya mendorong lahirnya pengusaha kaya dan bergerak dalam bidang usaha yang membutuhkan penyertaan modal tinggi, tapi juga harus mendorong munculnya pengusaha kecil yang bergerak dalam sektor kecil dan mikro (UMKM).
Potensi sektor UMKM, kata Bambang, sesungguhnya sangat menjanjikan. Dari seluruh entitas dunia usaha yang kita miliki, 95 persen (43 juta) merupakan usaha yang bergerak dalam sektor usaha mikro. Data ini, kata Bambang, memperlihatkan bahwa Indonesia potensial melahirkan wirausahawan yang bergerak dalam usaha mikro dan kecil.
Untuk itu, mental kewirausahaan mesti ditumbuhkan dan didorong terus, seperti kreatif, inovatif, dan berani mengambil risiko sebesar apa pun. Keluarga mesti menjadi lingkungan pertama yang menumbuhkan mental kewirausahaan anak. Dunia perguruan tinggi juga sudah saatnya diubah menjadi entrepreneur university. Swasta dan pemerintah harus mendukung terciptanya iklim kondusif bagi lahirnya wirausahawan muda. Jika iklim itu tersedia, maka wirausahawan muda berprestasi akan terus bertumbuh.Mungkin seperti cendawan di musim hujan.
Maka itu, kami melalui Masua Busines Student (MBS) kita ingin mencoba menggali potensi siswa yang ada dengan cara yang berbeda dan langsung pada inti keweirausahaan, salah satu bagian dari Masua Busines Student (MBS) adalah melihat keunggulan/usaha masyarakat/orang tua siswa yaitu peternakan dan pertanian dan kami sudah mencoba mengembangkan hal tersebut bekerjasama dengan Imah Embe membuat program peternakan domba kambing dan sapi, yang saat ini kandang ternak berkapasitas 200 ekor sudah kami miliki dan 40 ekor kambing saat ini kami kelola, kami mengajari kepada siswa tentang bagaimana caranya membuat pupuk kandang,permentasi rumput,memandikan ternak,mencukuri ternak,dan juga merawatnya. Kamipun bekerjasama dengan beberapa perusahaan BUMN seperti koperasi PT. Pupuk Kujang, koperasi PT. Petrokimia dan beberapa peternak untuk menjual hasil ternak kami. Namun dengan segala keterbatasan dana kami masih belum bisa optimal. Untuk hal ini kami dari Masua Busines Student (MBS) sangat mengharapkan dana pinjaman atau investor untuk bersama membangun ekonomi umat.



